Senin, 22 Desember 2014

Sebuah renungan_Catatan harian mahasiswa rantau part 1



sebuah renungan
(Catatan Harian Mahasiswa Rantau Part 1)

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tidak menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (Muttafaq ‘Alaihi)



D
ua hari lagi lebaran idul adha, dan kegiatan perkuliahan pun libur hingga satu hari sesudah lebaran. Aku janjian dengan seorang teman untuk ‘Pulkam’ bersama. Kebetulan aku dan temanku satu arah, meskipun kami tidak satu kampung.
Selama di bus, kamipun ngobrol-ngobrol mengenai banyak hal. Utamanya tentang kegiatan perkuliahan. Dari obrolan itu ada satu hal yang membuat terharu sekaligus  bangga. Latar belakang keluarganya yang bisa dikatakan tidak seberuntung diriku, aku yang masih memiliki orang tua lengkap beserta kakak dan adik-adikku, tapi dia hanya  hidup bersama ibunya. Ayahnya telah lama meninggal, sedang ibunya hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Untunglah dia masih punya paman yang baik hati, yang mau membiyayai kuliahnya.
        Semasa hidup, Ayahnya adalah seorang Guru. Dan temanku ini ingin sekali meneruskan perjuangan ayahnya menjadi seorang guru di kemudian hari. inilah yang membuatku salut padanya. Semangatnya yang luar biasa, seharusnya membuatku malu ketika aku masih membiarkan rasa malas belajar merajalela menguasai jiwaku.
         Kini, lagi-lagi membuatku sadar bahwa hidupku jauh diatas kecukupan jika dibandingkan dengan mereka yang memiliki batas kekurangan. Aku sadari, betapa banyak nikmat Allah yang diberikan kepadaku. Aku memiliki orang tua, sedang di luar sana banyak anak-anak yang berstatus yatim yang ditinggal mati oleh ayah atau ibu atau kedua-duanya. Aku bisa kuliah, sedang di luar sana berapa banyak lulusan SMA ataupun sederajat yang tidak bisa merasakan bangku perkuliahan. Bahkan lebih jauh lagi, betapa banyak di luar sana yang sama sekali tidak bisa mengenyam pendidikan. Aku bisa makan enak, sedang diluar sana masih banyak orang-orang kelaparan kekurangan makanan. Aku bisa tidur nyenyak, sedang diluar sana, begitu banyak orang-orang yang tidak memiliki rumah untuk sekedar berteduh.
       Memang, ketika kita melihat keatas, seolah kita merasa kita adalah orang yang paling tidak beruntung di dunia. Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang seolah mengandung keluhan dalam hidup terungkap dalam benak kita. Mengapa aku begini? Mengapa aku tak seperti dia? Sungguh enak ya, jika aku bisa seberuntung dia?.
Akan tetapi cobalah lihat di bawah kita, maka kitapun akan tahu betapa beruntungnya kita. Mari belajar bersyukur. Seperti kata bijak yang terselip di sebuah buku yang aku baca, “bukan karena kita menikmati apa yang kita miliki lantas kita bersyukur, tetapi bersyukurlah, maka engkau akan menikmati apa yang engkau miliki.” (3-10-2014)


“Hargailah apa yang telah kamu miliki, karena kebahagiaan tak akan pernah datang kepada mereka yang tidak menghargai apa yang telah dimilikinya”


By: Marjuki / Ilmu Al-Qur’an & Tafsir / Semester 3.



Facebook:  Marzuqi Al-muhajirin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar